Pada tahun 2012, sedikitnya tercatat ada sekitar 3.013 penindakan dengan jumlah potensi kerugian negara mencapai Rp 263.129.370.438. Sementara itu, di tahun 2013 tercatat ada sekitar 4.700 penindakan dengan jumlah potensi kerugian negara mencapai Rp 296.877.173.271.
Sedangkan untuk tahun 2014, untuk periode 1 Januari-31 Mei 2014, sudah berhasil ditindak sedikitnya 1.692 upaya penyelundupan dangan potensi kerugian negara hingga Rp 33.120.574.288.
Berikut daftar jenis barang yang dicoba diselundupkan:
- Tekstil dan Produk Tekstil
- Sembako (Gula, Beras, dan Lainnya)
- Handphone dan kelengkapannya
- Barang elektroniks
- Biji plastik
- Kendaraan bermotor
- Makanan dan minuman
- Perhiasan dan accesories
- Senjata dan bahan peledak
- Obat-obatan dan bahan kimia
- Kayu dan Rotan
- Pupuk
- Bahan Bakar Minyak
- Air soft gun
- Hasil tembakau
- Minuman beralkohol
- Ethyl alkohol
- Minyak sawit dan turunannya
- Mineral dan barang tambang
- Pasir timah
- Pasir lainnya, tanah dan top soil
- Narkotika dan psikotropika
- Barang terlarang dan terbatas
- Barang bekas
- Produk hak kekayaan intelektual (HAKI)
- Uang tunai
- Barang lainnya
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono mengatakan tren penyelundupan karena tingginya permintaan terhadap produk-produk tertentu yang seringkali merupakan produk terlarang, terbatas, atau perbedan harga yang cukup tinggi antara produk yang diimpor resmi dengan yang diselundupkan.
Selain itu, maraknya aksi penyelundupan didukung dengan menjamurnya pelabuhan-pelabuhan target penyelundupan atau yang biasa dikenal sebagai pelabuhan tikus di hampir seluruh wilayah pesisir di tanah air.
"Pelabuhan tikus ini nggak harus melulu harus tersembunyi. Ada yang begitu (tersembunyi) ada yang memang terbuka, seperti di Pelabuhan Tangkahan. Modelnya mereka membangun rumah di atas sungai (yang mengalir ke laut), nanti perahu mereka diamasukkan di bawah rumah mereka. Jadi transaksinya di bawah rumah mereka itu," ujarnya kemarin.
Indonesia merupakan wilayah yang kerap dijadikan kegiatan penyelundupan, namun aparat yang akan menindak para pelaku penyelundup tak mudah melakukannya.
"Jumlah mereka (penyelundup) bisa ribuan, karena seluruh perumahan di sana dibangun di pinggir sungai. Seperti di Dumai, Teluk Ribung, dan banyak lagi. Mereka juga hampir setiap rumah punya perahu. Kalau di sini semua rumah punya mobil di sana semua rumah punya perahu," tuturnya.
(hen/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!
