Menteri ESDM Sudirman Said menjelaskan hal ini. Menurut dia, keputusan ini sudah menguntungkan bagi semua pihak.
"Freeport sudah punya smelter di Gresik (PT Smelting, yang 25% sahamnya dimiliki Freeport Indonesia), sementara masyarakat Papua minta ada smelter di sana. Kalau Freeport dibebankan di 2 tempat menjadi kurang ekonomis," jelas Sudirman di pesawat VIP TNI AU kala perjalanan pulang dari Papua ke Jakarta, Minggu (15/2/2015).
Pemerintah daerah, lanjut Sudirman, kebetulan berminat juga membangun smelter. Kebetulan pula ada investor asing yang berminat.
"Investor yang sudah mendekati pemda itu dari Tiongkok. Tapi saya belum tahu," ungkapnya.
Dan kebetulannya lagi, pemerintah butuh ada pengolahan stok konsentrat nasional sebesar 4,5 juta ton/tahun. Sementara di Gresik, kemampuannya baru 1,2 juta ton/tahun.
"Jadi dibagi saja, tidak ada masalah. Ini win win solution," tutur Sudirman.Next
(hds/hen)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com