Libur dan Cuti Bersama Untungkan Pengusaha Ritel dan Pariwisata

Jakarta - Banyaknya libur dan cuti bersama di Indonesia justru menopang perekonomian Indonesia untuk sektor ritel (perdagangan) dan pariwisata. Namun untuk sektor industri manufaktur akan cukup berpengaruh.

"Justru dengan banyaknya hari libur, makin banyak waktu belanja yang digunakan untuk belanja, liburan, ini berkah buat ekonomi ritel dan pariwisata," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (15/10/2013).


Menurutnya, banyaknya hari libur bukan berarti mengurangi produktivitas kerja namun hanya pergeseran produktivitas dari ekonomi industri beralih ke ekonomi ritel dan pariwisata.


"Kurang setuju ya kalau banyaknya hari libur mengurangi produktivitas. Untuk bursa juga ya nggak ada ngaruhnya, secara jam memang berkurang tapi produktivitas nggak ya. Ini hanya pergeseran produktivitas saja," terangnya.


Di China saja, kata Reza, lebih banyak punya waktu libur namun produktivitas dan daya saingnya tetap terjaga.


"Di China juga banyak liburnya, tapi mereka tetap punya daya saing. Kalau di kita daya saingnya yang kurang. Orang-orang asing justru mereka bersyukur kalau Indonesia banyak hari libur karena banyak yang spending time ke negara-negara sana selain liburan di sini," kata Reza.


Sementara itu, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Samsul Hidayat mengatakan produktivitas kerja tidak melulu ditentukan oleh banyaknya jam kerja melainkan pencapaian-pencapaian yang telah disusun sebelumnya.Next


(drk/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!