Wajah Baru Kilang Arun, Harapan Baru Rakyat Aceh

Lhokseumawe -Presiden Joko Widodo (Jokowi) Senin lalu meresmikan pemanfaatan bekas Kilang LNG Arun di Lhokseumawe, Aceh. Kilang ini diubah fungsinya menjadi Terminal Regasifikasi LNG. Banyak pihak yakin proyek ini akan mengentaskan kemiskinan di Aceh.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan, Kilang LNG Arun beroperasi pada 1974. Kilang ini menjadi tempat pengolahan gas bumi menjadi gas alam cair (LNG). Hasilnya, sebagian besar diekspor, terutama ke Jepang.


"Kemiskinan di Aceh mencapai 17%, paling banyak di Aceh Utara yang merupakan lokasi Kilang LNG Arun berada. Pemerintah Daerah mengapresiasi langkah Pemerintah Pusat yang menjadikan eks kilang ini menjadi terminal regasifikasi, sehingga manfaatnya akan sangat besar, investor akan banyak masuk ke Aceh," ungkap Zaini saat peresmian Terminal Regisifikasi LNG Arun, Senin lalu yang dihadiri Presiden Jokowi.


Zaini mengibaratkan, habis manis sepah dibuang. Gas bumi di Aceh disedot sampai habis berpuluh-puluh tahun, ekonomi rakyat di Aceh tidak maju-maju.


Dahulu Lhokseumawe terkenal dengan kilang seluas 2.000 hektar ini. Belum lagi aset lainnya, seperti perumahan karyawan yang luas dan bangunannya paling bagus di Lhokseumawe, sampai tersedia lapangan golf.


Kilang tersebut dibangun pada 1971, karena saat itu ditemukan salah satu lapangan gas terbesar di dunia oleh Mobil Oil Indonesia Inc (sekarang bernama Exxon Mobil), yang bekerjasama dengan Pertamina.


Pada 1974, tiga train kilang LNG Arun dibangun, dan menjadikan LNG Arun sebagai salah satu kilang LNG terbesar di dunia. Saham LNG Arun, 55% dikuasai Pertamina, Mobil Oil Indonesia Inc sebanyak 30%, dan Japan Indonesia LNG Co (JILCO) 15%. Nah, JILCO juga berposisi sebagai pembeli LNG dari kilang ini.Next





(rrd/dnl)

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com