Mengapa para 'marketing' bandel ini mengetahui nomor kontak maupun data-data anda? Siapa yang harus bertanggung jawab akan hal ini?
Ketua Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta mengungkapkan, bank maupun penerbit 100% menjaga kerahasiaan data para nasabahnya. Banyak orang yang menganggap sesama bank maupun penerbit kartu kredit saling menukar data untuk mencari nasabah baru.
"Hal ini tidak benar. Tidak ada bank dan penerbit tukar menukar data maupun saling membeli data nasabah. Dengan prinsip kerahasiaan maka bank dan penerbit merahasiakan data-data para nasabah," jelas Steve dalam penjelasannya kepada detikFinance seperti dikutip, Senin (4/3/2013).
Lalu bagaimana marketing bank bisa mengetahui nomor telepon nasabah?
Steve menjelaskan, bank maupun penerbit biasanya menggunakan pihak ketiga dalam mencari maupun menggaet nasabahnya. Sehingga, biasanya pertukaran data bisa saja terjadi oleh outsourcing ini.
"Jadi bank dan penerbit menggunakan pihak ketiga yakni outsourcing dalam memasarkan kartu kreditnya. Di mal biasanya maupun pusat perdagangan dan pusat perbelanjaan lain. Kadang calon nasabah yang ingin bikin kartu kredit menyerahkan data-data seperti nomor telepon," terangnya.
"Hal ini lantas dipertukarkan antar sesama outsourcing. Sehingga kerap lebih dari satu marketing menawarkan kepada kita. Saya sendiri sering sekali dapat tawaran kartu kredit," tutur Steve.
Lebih jauh Steve mengatakan, penggunaan SMS ke nomor acak juga kadang dilakukan oleh marketing. Sehingga, sambungnya siapapun bisa menerima tawaran ini tanpa terkecuali.
Punya pengalaman unik seputar kartu kredit? Yuk kita bagi-bagi dengan mengirim ke redaksi@detikfinance.com dengan subjek: Kartu Kredit .
(dru/dnl)