Sedikitnya ada 30 gua bernilai sejarah di kawasan yang membentang dari Kabupaten Berau hingga Kutai Timur ini. Itu pun baru area seluas 80 Km x 100 Km yang telah disurvei, sementara bentang alam Karst Sangkulirang Mangkalihat mencapai 1,8 juta hektar.
Peninggalan pra sejarah yang paling banyak ditemukan di kawasan ini adalah lukisan gua atau rock art yang jumlahnya mencapai 2.300 gambar dan didominasi gambar telapak tangan dengan susunan tertentu. Peneliti Karst dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Pindi Setiawan menyebutkan gugusan Karst di kawasan ini paling lengkap di Asia Pasifik.
Mirip ensiklopedi, lukisan-lukisan tersebut merekam peradaban sejak masa yang paling tua yakni sebelum ada hutan tropis di Kalimantan, yang digambarkan dengan imaji tentang alat-alat berburu dan mamalia besar seperti banteng dan rusa betina. Pada masa itu, Ras Austronesia menurut teori bahkan belum masuk ke Kalimantan.
Alat-alat untuk berburu yang tergambar dalam lukisan tersebut diantaranya adalah panah, yang menurut Pindi tidak lazim digunakan di hutan tropis dengan vegetasi yang rapat. Gambar inilah yang memunculkan asumsi bahwa peradaban di gua-gua ini berusia lebih tua dari hutan tropis.
"Minimal 8.000 tahun yang lalu ketika Kalimantan masih berupa savana. Sebab kalau sudah menjadi hutan tropis, tidak mungkin ada gambar panah. Di hutan, orang berburu dengan tombak atau sumpit," tutur Pindi kepada detikFinance pekan lalu.
Aktivitas pemujaan juga terekam dalam lukisan-lukisan gua yang ditemukan di kawasan ini. Gambar tokek misalnya, menunjukkan adanya tradisi pemujaan terhadap roh nenek moyang. Next
(up/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!