Meski begitu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, wacana ini jangan terlalu dianggap terlalu serius.
"Kadang-kadang ada spesialis-spesialis dibutuhkan yang kita tidak punya. Ilmu teknologi bisnis itu terus berkembang, kita tidak bisa menutup diri. Bisa saja bukan sebagai direksi, tapi sebagai konsultan sebagai apa. Dunia ini tanpa suatu keterbukaan kita tidak bisa ikut," kata JK di kantornya, Jakarta, Selasa (23/12/2014).
Dia mengatakan, saat ini saja banyak orang-orang Indonesai yang bekerja di perusahaan luar negeri. Contoh saja pada perusahaan minyak dan gas di Qatar.
"Banyak ahli minyak kita kerja di Qatar. Ada yang di tingkat manajer, direksi belum. Jadi ada. Karena kalau tidak punya skill, kita jadi konsumen melulu," jelas JK.
Banyaknya profesional di BUMN diperlukan, sehingga daya saing perusahaan bisa makin tinggi. Namun saat ini, ujar JK, BUMN belum mutlak membutuhkan orang asing di jajaran direksi
"Perlu profesional yang lebih baik lagi. Boleh didapat dari mana saja," ungkap JK.
(dnl/ang)