"Dari sisi pengamatan kasat mata saja, baju bekas impor tidak layak pakai. Maka itu untuk mendalami dilakukan pengujian mikro biologi. Ujinya waktu itu kita ambil di akhir Desember, prosesnya lebih dari 1 bulan," papar Direktur Jenderal Standardisasi Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Widodo saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (4/02/2015).
Widodo menegaskan bakteri dan jamur yang terkandung di dalam pakaian bekas impor berbahaya bagi kesehatan karena mengandung banyak penyakit.
"Ada kandungan bakteri E. coli, S. aureus. Bakter E. coli bisa menimbulkan diare dan gangguan pencernaan. S. aureus bisa akibatkan bisul, jerawat, dan infeksi luka. Jamur katang dan kamir seperti Aspergilus spp dapat menyebabkan gatal-gatal hingga infeksi pada saluran kelamin," paparnya.
Penularan bakteri dan jamur dari pakaian bekas ke manusia juga beragam. Seperti pengenaan langsung pakaian bekas tersebut sehingga ada kontak langsung dengan kulit. Kemudian melalui tangan yang bersentuhan dengan pakaian bekas dan makan tanpa cuci tangan mengakibatkan bakteri dan jamur hidup dan berkembang biak di dalam tubuh manusia.
"Saya pada saat turun ke Pasar Senen agak ngeri. Saat pegang saja sudah mulai gatal. Jangan-jangan pakai kaos tangan juga tembus. Jalur penularannya bisa pegang, lalu makan, dan jadi infeksi pada tubuh manusia," kata Widodo.
(wij/hds)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com