Meskipun dolar AS semakin mahal, keinginan masyarakat untuk liburan ke luar negeri tidak terganggu. Hal tersebut diakui Nita, Bagian Ticketing Biro Perjalanan Wisata DHN menyebutkan, tidak ada pengaruh signifikan dari penguatan dolar AS. Jumlah masyarakat yang pergi ke luar negeri tetap banyak.
"Nggak terlalu berdampak, travel kan untuk bisnis dan liburan, walaupun dolar AS mahal, tetap saja penuh," ujar dia saat ditemui detikFinance di kantornya, Jalan Letjen Suprapto No.16, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2015).
Nita menyebutkan, negara tujuan paling banyak dikunjungi adalah Singapura, Thailand dan negara Asia lainnya.
"Negara-negara Asia biasanya. Paling banyak sih Singapura, Thailand. Mereka pilih ke sana nggak terlalu mahal, lebih murah ke Singapura daripada ke Papua," ungkap dia.
Nita menjelaskan, penguatan dolar AS masih kalah dibandingkan dengan kuatnya orang Indonesia yang ingin pergi berlibur ke luar negeri.
"Liburan mah tetap saja penuh, dolar AS tinggi tetap saja nggak mengurangi minat jadi batal liburan, kalau punya duit kan, orang mau liburan ya liburan saja, kita lihat kan destinasi-destinasi di luar negeri selalu penuh," pungkasnya.
(drk/ang)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com