Menteri BUMN Dahlan Iskan bercerita, Indonesia masih bergantung kepada impor berbagai produk, karena produk dalam negeri belum mampu menopang kebutuhan ekonomi.
"Kenapa tumbuh 6% kita selalu impor, karena ekonomi kita tidak mampu ditopang produk dalam negeri. Ini bagaimana mengatasinya? What next? Apa kita akan mengulang kembali?" ucap Dahlan pada acara Mandiri Investment Forum 2013 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (12/11/2013).
Tingginya impor di Indonesia terjadi pasca krisis ekonomi 1998. Para pengusaha tanah air yang telah membangun industri dari hilir sampai hulu terkena dampak krisis. Akibatnya, industri bahan baku hingga produk jadi banyak yang gulung tikar. Kemudian, para pengusaha memilih menjadi pedagang dengan jalan mengimpor.
"Datang krisis 1998, kemudian datang kerusuhan, kemudian kurs kacau balau. Banyak menutup pabrik kemudian jadi pedagang, lebih enak impor kemudian diberi merek dalam negeri, dan dijual begitu saja. Ini yang merupakan kelemahan ekonomi kita, maka itu kita harus menumbuhkan industri," sebutnya.
Untuk mengurangi dampak impor, BUMN nantinya akan berperan untuk mendorong tumbuhnya industri dalam negeri kembali.
"Kita buat daftar impor yang tinggi. Kita refinary (kilang) impor, kita bangun refinary. Suku cadang impor luar biasa. Industri suku cadang harus kuat dalam negeri. Buah juga kita impor luar biasa di dalam negeri. Kita bangun perkebunan besar-besaran. Refinary Pertamina segera dibangun. Yang besar-besar seperti itu," sebut Dahlan.
(feb/dnl)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!