Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo Sofjan Wanandi mengatakan, buruh di Kamboja yang terhitung baru masuk kerja diberi upah tak lebih dari US$ 50 per bulan. Besaran yang sama didapat buruh di Myanmar.
"Buruh di Kamboja itu 1 bulan US$ 40, Myanmar US$ 40," kata Sofjan kepada detikFinance, Selasa (5/11/2013).
Tak berbeda jauh dengan Indonesia, di Vietnam, lanjut Sofjan, buruh dibayar dengan UMP yang hampir sama dengan buruh di tanah air. Bedanya, buruh di Vietnam memiliki produktifitas yang lebih tinggi. Ditunjukkan dengan jam kerja buruh yang mencapai 56 jam/minggu. Sedangkan buruh Indonesia hanya bekerja selama 40 jam/minggu.
"Kalau kita pakai 2 buruh, dia pakai 1 buruh. Kita masih pakai unskilled labour. Dia misalnya bikin 1 lusin kemeja setiap hari, kita hanya buat 6 potong. Disiplinnya mereka tinggi juga," papar Sofjan.
Ironis menurut Sofjan, ditambah dengan kondisi seperti ini investor enggan menanamkan modalnya di perusahaan padat karya. Mereka lebih memilih untuk menanamkan modal di perusahaan padat modal.
"Nggak mau investasi dalam labour intensif (padat karya) ini, karena buruh ribut terus, produktifitasnya kecil. Daripada masuk ke modal, buruh akhirnya jadi TKI," tutupnya
(zul/ang)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!