Panas Bumi di Indonesia Tak Berkembang Karena Mafia Batubara

Jakarta -Sebagian besar listrik di Indonesia 88% lebih dipasok lewat pembangkit listrik berbahan bakar fosil, 42% batubara, 23% pakai BBM, dan 21% pakai gas alam. Di sisi lain, pengembangan panas bumi masih melempem padahal potensinya sangat besar, ada saja hambatannya. Ada yang bilang, ini karena ditentang mafia batubara.

Indonesia memiliki 40% panas bumi di dunia, terbesar di dunia dengan potensi mencapai hampir 30.000 megawatt (MW). Namun sampai saat ini, baru 1.336 MW atau kurang dari 4% yang baru termanfaatkan.


Kepala Persiapan Lahan dan Evaluasi Panas Bumi Direktorat Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Bambang Purbiyantoro mengungkapkan, kendala-kendala pengembangan panas bumi tidak hanya dari masalah teknis, tapi juga ada yang non teknis seperti dihalangi para mafia batubara.


"Jelaslah mafia-mafia batubara itu nggak mau panas bumi di Indonesia berkembang, bisa bangkrut usaha mereka," kata Bambang ketika berbincang saat kunjungan Media Trip WWF-Indonesia ke Gunung Mount Apo Filipina melihat proyek panas bumi pekan lalu.


Bambang mengungkapkan, sebagian besar pembangkit-pembangkit listrik batubara banyak tersebar di Jawa dan Sumatera, di mana juga menjadi tempat potensi besar panas bumi.


"Di Sumatera dan Jawa itu banyak pembangkit listrik batubara (PLTU) di mana di situ juga ada potensi besar panas bumi, bayangkan kalau panas bumi berkembang pesat di sana. Tidak terpakai batubara mereka mau dijual ke mana? Diekspor saja harganya murah sekali," katanya.


Padahal, kata Bambang, dengan adanya pembangkit panas bumi negara dan masyarakat akan mendapat keuntungan besar.Next


(rrd/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!