Menteri Riset dan Teknologi Gusti M Hatta mengatakan Indonesia mendapat kehormatan untuk memimpin program kebijakan riset dan teknologi se-ASEAN. Kebijakan tersebut akan diimplementasikan mulai 2015-2020.
"Intinya jadi kita membuat APASTI (Action Plan of Action on Science, Technology and Innovation), ini penting dalam menyambut Asean Economic Community (AEC). Karena teknologi baik untuk pembangunan kita," kata Gusti ditemui di pembukaan ASEAN Science and Technology Week (ASTW), di Botani Square Garden, Bogor, Senin (25/8/2014).
Gusti mengatakan, selain itu, dalam gelaran ini juga, Indonesia memimpin program peringatan dini terhadap bencana di ASEAN, atau ASEAN Early Warning System. Menurutnya, akan diciptakan suatu teknologi, Indonesia bisa menjadi pemimpin program.
"Kita diminta untuk memimpin, apakah dalam penelitiannya ataukah dalam teknologinya. Karena kita tahu Indonesia berada dalam ring of fire. Kita terus melakukan penelitian. Apakah itu untuk gempa, tsunami atau gunung meletus," kata Gusti.
Para menteri-menteri di ASEAN yang hadir antara lain:
- Ewon Ebin, Menteri Ilmu Teknologi dan Inovasi Malaysia
- Tung Ciny, Under Secretary, Ministry of Industry and Handicraft Kamboja
- Houmphanh Intharath, Wakil Menteri Ilmu, dan Teknologi Lao PDR
- Ba Shwe Deputi Menteri Ilmu dan Teknologi Myanmar
- Amelia Guevarra, Wakil Menteri Penelitian dan Pengambangan Departemen IPTEK Filipina
- Rajendran Thampuran, Managing Director of the Agency for Science, Singapura
- Pehin Dato Pehin Orang Kaya Indera Pahlawan Dato Seri Setia Haji Voi Haji Osman, Menteri Pengembangan, IPTEK dan Teknologi Brunei Darussalam, dan delegasi lainnya.
(zul/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!