Pedesaan di Pulau Madura dan Bali Jadi Contoh Penanganan Krisis Air

Jakarta -Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya menggelar workshop bertajuk "Penanganan Krisis Sosial Ekologi dalam Merespons Pembangunan Pemukiman Hijau Skala Pulau".

Acara ini dihadiri oleh perwakilan masyarakat desa Bali dan Madura yang akan berbagi pengalaman soal penanganan krisis air di wilayahnya.


Kegiatan berlangsung di Gedung Sapta Taruna Kantor Pusat Kementerian PUPR, Jakarta. Penanganan krisis air bisa diatasi dengan penerapan kota hijau untuk menjamin keberlanjutan pembangunan kawasan di lingkungan berbentuk kepulauan.


"Kota hijau dapat dipahami sebagai kota yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan secara efektif dan efisien sumberdaya air, listrik dan energi lainnya, mengurangi limbah dan menjamin kesehatan lingkungan," ujar Direkur Jenderal Cipta Karya Imam S Ernawi dalam sambutannya pada acara yang digelar Selasa (23/12/2014).


Pengembangan kota hijau di kawasan kepulauan dihadapkan dengan berbagai tantangan akibat gencarnya pembangunan dari mulai pencemaran lingkungan, krisis air bersih dan rusaknya kelestarian lingkungan.


"Kawasan kepulauan memiliki karakteristik yang unik. Luas wilayah yang terbatas menjadi faktor utama minimnya ketersediaan sumberdaya seperti air bersih, pengolahan limbah dan rentan terjadi permasalahan sanitasi," katanya.


Permasalahan ini lah yang harus segera dicarikan solusi oleh pemerintah. Bila tidak disikapi serius, maka kawasan kepulauan akan menjadi sumber bencana yang menyebabkan berbagai bentuk pencemaran dan kerusakan lingkungan. Bahkan kelangsungan hidup masyarakat di kawasan kepualauan pun juga akan terancam.Next


(dna/hen)