Ampuhkah MRT dan Monerel Atasi Macet?

Jakarta - Untuk mengetahui seberapa macet lalu lintas di Jakarta, tak perlu terjun langsung. Coba baca saja artikel di kantor berita BBC yang mengkategorikan kemacetan di Jakarta sebagai satu dari "10 Monster Traffic Jams from Around The World".

“Hidup Anda diatur berdasarkan perkiraan jadwal kemacetan lalu lintas. Padahal kemacetan bisa berlangsung sepanjang hari,” kata Allan Bell, seorang ekspatriat yang tinggal di Jakarta seperti dikutip dari artikel BBC tersebut.


Bell bilang, bepergian di Jakarta bisa membuat frustrasi karena memakan waktu berjam-jam. Sayangnya, hampir tidak ada alternatif bagi warga Jakarta untuk terhindar dari kemacetan. “Bus Trans Jakarta tidak terlalu efektif, dan bahkan kadang menjadi penyebab kemacetan karena mengurangi ruas jalan,” katanya.


Japan International Cooperation Agency (JICA) pun pernah melakukan riset tentang kondisi transportasi di Jakarta. Menurut riset itu, dengan setidaknya 1.000 kendaraan baru meluncur di Jakarta setiap tahun maka pada 2020 lalu lintas akan macet total.


Studi JICA yang diberi judul "Study on Integrated Transportation Master Plan" tersebut juga mengungkapkan kerugian akibat macet di Jakarta. Jika sampai 2020 tidak dilakukan perbaikan sistem transportasi, kerugian ekonomi akibat macet diperkirakan mencapai Rp 65 triliun per tahun.


Kini, warga Jakarta mencoba berharap pada dua moda transporatasi baru yaitu mass rapid transit (MRT) dan monorel, yang sudah memasuki tahap pembangunan. Apakah keduanya mampu mengatasi masalah kemacetan di Jakarta?


Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta, optimistis. “Jelas berkurang dong. Kalau tidak berkurang buat apa membangun MRT dan monorel? Harus yakin dong,” tegas sosok yang akrab disapa Jokowi ini, pada pekan lalu.Next


(DES/DES)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!