Ini Usulan Wamendag Tekan Defisit Neraca Perdagangan Migas RI

Jakarta -Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan pada sektor minyak dan gas (migas) di bulan September 2013 sebesar US$ 1,2 miliar. Defisit neraca perdagangan migas selama Januari hingga September 2013 sebanyak US$ 9,74 miliar karena importasi migas masih tinggi.

"Impor minyak mentah 29,3%, ini cukup besar, kita sudah cek ke ESDM (Kementerian Energi Sumber Daya Mineral) tidak ada penambahan kilang yang cukup signifikan tapi crude-nya kok tinggi," kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi saat konferensi persnya di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (6/11/2013).


Bayu menyebutkan, dari Januari-September 2013, impor BBM hanya 1,2%, sementara impor minyak mentah naik 29,3%.


"Secara keseluruhan impor BBM kecil. Ini kita harus cermati. Ekspornya crude kita minus 15%. Tapi impor crude kita naik 29,3%," kata Bayu.


Untuk mengantisipasi tingginya impor migas, Bayu mengatakan, perlu dilakukan diversifikasi energi minyak ke energi lain seperti energi air, matahari, dan angin.


"Penggunaan biofuel saat ini baru duapertiga sekitar 67%. Kita harapkan ada yang lain, seperti energi air, matahari, angin, investasi di bidang itu cukup besar," katanya.


Bayu menambahkan, untuk pengurangan impor migas, tahun depan sudah ada pembahasan kontrak pembelian biofuel sebesar 6,5 juta kilo liter yang akan dibeli dari produsen-produsen biofuel. Namun, pihaknya tidak menyebut secara rinci pembahasan terkait kontrak tersebut.


(drk/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!