Veteran Perang AS Ramai-ramai Berwirausaha

Jakarta -Meski sudah terjadi beberapa tahun lalu, Johnny Morris dan Brad Lang masih tak bisa melupakan peristiwa di Afghanistan itu. Kedua mantan anggota penjinak bom di kesatuan marinir Amerika Serikat itu terkena ledakan bom dalam penugasan keduanya di sana.

Morris kehilangan satu kakinya. Sedangkan dalam peristiwa lain, Lang malah kehilangan kedua kakinya. Trauma membekas dari peristiwa itu. Tapi alih-alih meratapi nasibnya yang jadi orang cacat, kedua eks marinir itu berhasil bangkit.


Morris dan Lang menggunakan ilmu yang mereka dapatkan di medan tempur untuk mendirikan sebuah perusahaan pembuat senjata api, Stumpies Custom Guns Inc di Swansboro. Tapi jalan untuk menjadi pebisnis tak datang tiba-tiba.


Setelah masa dinasnya selesai, Morris dan Lang rupanya mengikuti program kewirausahaan yang digelar Sekolah Manajemen Whitman di Universitas Syracuse pada 2012.


Program itu terdiri dari satu bulan kursus online dan sembilan hari kamp di kampus Rochester, New York. Buat Morris dan Lang, kewirausahaan bukan dunia yang asing, sama saja seperti bertahan hidup di tengah medan tempur. “Kalian bertanggung jawab pada takdirmu sendiri, begitu juga berbisnis,” kata Morris, yang berusia 27 tahun.


Selepas dari dinas militernya, Morris dan Lang, yang berusia 28 tahun, memang sengaja tak melamar pekerjaan. Mereka bosan menjadi 'anak buah' yang selalu mendapat perintah tanpa dapat mempertanyakan.


Morris dan Lang tak berjalan sendiri di bidang wirausaha. Sebuah survei terbaru mengindikasikan semakin banyak veteran perang AS yang beralih menjadi wirausahawan. Pada tahun lalu persentasenya 7,1 persen, naik dari 4,6 persen pada 2008.Next


(DES/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!