Pembebasan Lahan Proyek PLN Sampai Diacungi Parang

Jakarta -Proses pembebasan lahan menjadi kendala hampir di setiap pembangunan infrastruktur. PT PLN (Persero) pun kerap menemui kendala itu, bahkan hingga ancaman pembunuhan.

Manager Senior bidang Manajemen Properti PT PLN Endro Yulianto mengatakan, kondisi itu memang kerap terjadi di hampir setiap pembangunan pembangkit ataupun transmisi listrik PT PLN. Proses pembebasan lahan menemui kendala hingga ancaman pembunuhan menggunakan senjata tajam.


"Itu sungguh ada. Pakai parang (diacungkan). Ada yang spanduk berbunyi 'masuk ke sini pulang tak bernyawa' itu juga ada," kata Endro saat berbincang dengan detikFinance di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Selasaa (26/8/2014)


Sayangnya, Endro tidak mengatakan di mana lokasi persisnya proyek PLN yang dibangun itu. "Itu ada yang seperti itu," tambah dia.


Dikatakan Hendro, permasalahan pembebasan lahan di lapangan untuk dibangun proyek PLN bervariasi, tak hanya satu macam. Setiap daerah punya masalahnya masing-masing.


"100 proyek, 100 kendala," katanya.


Pasalnya, setiap pembebasan lahan seringkali dihadapkan persoalan sosial seperti permintaan ganti rugi lahan yang melambung melebihi harga pasar dan penilaian wajar (appraisal).


"Di lapangan itu tidak hitam putih, abu-abu semua. Tak ada rumus yang satu ditempatkan di tempat lain," katanya.


Maka, dia mengatakan, tak ada pakem untuk metode pendekatan yang dilakukan saat pembebasan lahan. Semua metode dikondisikan dengan daerahnya masing-masing.


"Yang penting itu komunikasi. Kalau itu selesai, insya Allah (tanah) selesai," tutup Endro.


(zul/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!