Tujuan adanya kawasan ekonomi seperti ini adalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan industri, menambah penerimaan negara dengan adanya investasi, juga menggerakkan perekonomian khususnya wilayah di sekitar kawasan.
KEK Sei Mangkei baru dilakukan groundbreaking pada pertengahan 2013. Menko Perekonomian saat itu yakni Hatta Rajasa meresmikian kawasan ini didampingi menteri-menteri ekonomi lainnya. KEK Sei Mangkei dibangun khususnya sebagai pusat industri hulu dan hilir kelapa sawit.
Kawasan yang memiiliki luas lahan 2.002 hektar ini dikelilingi perkebunan sawit yang dikelola PTPN III. Total luas lahan yang dikelola BUMN ini mencapai 160.000 hektar. Untuk industri, telah dialokasikan lahan seluas 1.400 hektar. Ditargetkan akan ada paling sedikit 140 industri berinvestasi di lokasi yang jaraknya 4 jam dari kota Medan ini.
Saat ini PT Unilever Oleochemical Indonesia telah menggunakan 18 hektar lahan untuk aktivitas industrinya. Perusahaan ini memproduksi bahan baku sabun berbahan dasar sawit.
Tak hanya Unilever, PTPN III pun sudah mengoperasikan pabrik pengolahan kelapa sawit di kawasan yang terletak di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara ini. Juga dikabarkan ada beberapa investor yang akan menyusul di antaranya pabrik pupuk PT Cipta Buana Utama Mandiri, Shimizu Corporation membangun power plant berkapasitas 6 MW menggunakan biomassa, lalu perusahaan Singapura, Energy Uni Resources, membangun pabrik oleochemical dan karet.
Terkait infrastruktur, boleh dibilang KEK Sei Mangkei masih minim. Pasalnya, belum ada sarana transportasi yang cukup untuk menjangkau daerah ini. Beberapa titik ruas jalan menuju kawasan ini berlubang, juga minim penerangan. Kementerian Pekerjaan Umum berjanji akan segera membenahi persoalan ini.Next
(zul/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!