Deputi bidang Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) Pangihutan Marpaung menjelaskan, banyak kekhawatiran dari masyarakat untuk tinggal di hunian rumah susun sewa.
"Untuk masyarakat bawah, perlu adaptasi yang biasanya dari rumah vertikal tentu ada perubahan perilaku, termasuk kegiatan yang sifatnya kurang baik," kata pria yang akrab disapa Paul ini kepada detikFinance di Kantor Kementerian Perumahan Rakyat, Jalan Raden Fatah, Jakarta Selatan, Jumat (1/3/2013).
Dikatakan Paul, kekhawatiran masyarakat kelas menengah bawah ini kerap kali terkait masalah-masalah sosial. Diantaranya adanya paradigma yang mengatakan bahwa di rumah susun itu banyak terjadi transaksi narkoba dan lain-lain.
"Ada transaksi obat terlarang, tempat menyimpan istri muda, dan hal-hal sosial lain. Dan sering juga dari sisi kalau dihuni keluarga, ada kasus anak-anak jatuh dari lantai atas, itu dari sisi masyarakatnya," katanya.
Ia menambahkan, hal tersebut pun menjadi salah satu pemicu terkendalanya pembangunan rusun sewa di kota-kota besar seperti Jakarta. Selain dari sisi keterbatasan lahan, pengembang pun sulit untuk membangun karena resistensi dari masyarakat sekitar.
"Karena kita punya catatan bahwa seringkali rumah susun yang akan dibangun, ditolak oleh masyarakat. Karena ada kekhawatiran itu akan mengurangi air tanah, akan menjadi sumber banjir, dan macam-macam," pungkasnya.
(zul/ang)