"Sektor yang mengalami penurunan pekerja adalah sektor pertanian," ungkap Kepala BPS Suryamin di Gedung BPS, Jakarta, Senin (6/5/2013).
Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS Razali Ritonga menjelaskan, penyebab penurunan jumlah petani adalah pendapatan.
"Peralihan karena biasanya begini, umumnya masalah income (pendapatan). Kalau di luar pertanian lebih tinggi, tentu dia mobile (bergerak). Jangankan per sektor, per daerah juga begitu," ujar Razali..
"Jadi sekarang, kalau di pedesaan penduduknya makin sedikit, karena gaji di perkotaan lebih tinggi. Orang kan memilih, mana kesempatan yang lebih baik," sambungnya.
Akan tetapi, ia menuturkan hal itu tidak akan mengganggu produktivitas. Asalkan ada solusi seperti penerapan teknologi.
"Tidak kalau diimbangi dgn teknologi, mekanisasi pertanian, tak masalah. Jadi 10 orang pergi tinggal 1 diganti traktor tak masalah," pungkasnya.
Selain itu Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Wynandin Imawan menuturkan penurunan jumlah petani akibat konversi lahan.
"Sekarang kan konversi lahan pertanian di daerah produktif terutama di Jawa, sepanjang pantura, selatan, kan sudah ada konversi. yang tadinya sawah, mulai dimatangkan, lalu dijadikan pabrik. Itu kan tentu tak ada lagi kegiatan pertanian di sana. Dari waktu ke waktu dari tahun ke tahun," jawab Wynandin.
(dnl/dnl)