Pria berusia 39 ini mengaku tidak mudah meraih sukses di bisnis bakso, banyak jalan berliku yang harus ditempuh. Ia harus berjuang keras dan jatuh bangun hingga akhirnya menciptakan kedai bakso bernama Bakso Kuto Cak To.
Awalnya pria yang biasa disapa Cak To ini harus melewati berbagai macam rintangan untuk bisa mengembangkan bisnisnya di bidang kuliner. Mulai jualan tempe penyet, warung kopi emperan hingga kaos dia lakoni. Namun, kesuksesan belum berpihak padanya.
Hingga akhirnya pada tahun 2004, saat ia memutuskan menikah, tercetuslah ide untuk membuat bisnis bakso dan kedai kopi. Bakso yang ia buat perpaduan antara bakso Solo dan Malang. Alhasil, bakso ini berbeda dari bakso yang sudah ada.
"Saya hanya lulusan SMA, otodidak belajar bisnis sejak SMP dari jualan kaos, tempe penyet, warung kopi, jatuh bangun 7 tahun. Sejak 2004, saya buat bisnis Bakso Cak To bareng istri, ini sudah 10 tahun, berkah nikah," ujarnya saat ditemui di Acara Pameran Waralaba 2014, di JCC Senayan, Jakarta, Minggu (22/6/2014).
Di kedainya tersebut, tak hanya menawarkan bakso, Cak To juga menyediakan mie pangsit ayam jamur, penyetan, tahu bakso, bakwan sapi penyet, iga sapi penyet, ayam geprek penyet, bebek ungkep Suroboyo dan masih banyak lagi.
Untuk bakso ada berbagai macam varian seperti siomay, gorengan, bakso mercon, granat, super kasar, puyuh, ikan, beef, udang, dan lain-lain. Harganya pun cukup terjangkau Rp 2.500 per potong.Next
(drk/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!