Lonjakan Impor Cabai Terjadi Saat Panen Raya

Jakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan volume impor cabai (awet sementara) sebesar 100% pada Maret 2014. Padahal periode itu merupakan masa panen raya para petani cabai lokal.

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana tak habis pikir dengan adanya data impor cabai pada panen raya. Menurutnya panen raya sudah berlangsung sejak Februari, Maret, April, hingga Mei 2014.


"Seharusnya nggak perlu impor, petani kasihan dong petani," katanya kepada detikFinance, Senin (5/5/2014)


Menurutnya panen raya tahun ini sudah dinanti oleh para petani, sebab tahun lalu banyak gagal panen karena curah hujan maupun dampak letusan gunung di sentra tanaman cabai.


"Produksi cabai besar tahun lalu sekitar 700.000 ton, cabai rawitnya 500.000 ton. Sekarang lagi panen di Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah," katanya.


Dadi berharap musim panen cabai yang secara langsung berdampak pada penurunan harga tak diperparah dengan cabai impor. Saat ini harga cabai besar di tingkat petani Rp 7.000-8.000/Kg padahal sebelum musim panen mencapai Rp 20.000/Kg. Sedangkan cabai rawit saat ini sudah turun menjadi Rp 15.000/Kg dari sebelumnya Rp 40.000 di tingkat petani.


Dani menambahkan di dalam negeri pasokan cabai non segar atau olahan seperti cabai kering giling/tumbuk masih terbatas, sehingga untuk memenuhi pasokan domestik masih perlu impor.Next


(hen/hds)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!