Hal ini diungkapkan Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Dwi Sudharto kepada detikFinance, Senin (5/05/2014).
"Di Pulau Jawa ini sekarang trennya sawahnya dikeringkan kemudian ditanam kayu sengon. Bisa dilihat di Jawa Tengah dan Jawa Barat," katanya.
Dwi menambahkan, bertanam pohon sengon jauh lebih mudah dan murah bila dibandingkan dengan menanam padi. Bahkan bila dihitung, Biaya Pokok Petani (BPP) sengon jauh lebih murah daripada padi. Keuntungan yang dihasilkan dari berbisnis sengon jauh lebih tinggi dibandingkan bertanam padi.
"Sengon ini setahun satu batang harganya Rp 1 juta, kalau padi berapa? Jadi industri berkembang. sawah itu 4 bulan, modalnya rata-rata Rp 5 juta, produknya (panen) itu Rp 10 juta ada margin Rp 5 juta. Dalam setahun 3 kali panen marginnya hanya Rp 15 juta. Itu sepanjang tahun semua kerja di sawah, dikali 6 tahun Rp 90 juta," katanya.
Sedangkan untuk tanaman sengon, dari bibit yang harganya Rp 5.000/batang, bisa langsung ditanam tanpa perlu dipupuk. Satu hektar paling tidak, bisa tanam 800 batang. Perhitunganya untuk umur 6 tahun, ukuran 1 batang bisa 3/4 kubik.
"Misalnya panen 600 kubik, dikali Rp 1 juta jadi ada Rp 600 juta itu 6 tahun," tuturnya.
Besarnya keuntungan yang didapat menjadi perangsang masyarakat untuk menanam pohon sengon atau non pangan. Apalagi di Indonesia saat ini terdapat 350 industri kayu besar dan ribuan industri kayu kecil yang membutuhkan pasokan kayu sengon batangan cukup besar setiap tahunnya.
"Kayu Sengon, industri kita punya 350 industri kayu besar, sedangkan yang kecil-kecil ribuan. Laku semua kayunya itu. Apalagi ditambah SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) tambah laris mereka," jelasnya.
Namun tren beralihnya petani sawah ke tanaman non pangan, bisa menjadi ancaman terhadap produksi tanaman pangan khususnya padi.
(wij/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!