Sebelum krismon, perekonomian Indonesia bisa dikatakan cukup nyaman. Saat itu, Indonesia telah melalui enam Pembangunan Lima Tahun (Pelita) dan bersiap menuju Era Tinggal Landas.
Sebelum Juni 1997, inflasi tergolong rendah. Surplus neraca perdagangan lebih dari US$ 900 juta dan cadangan devisa lebih dari US$ 20 miliar.
"Sebelum Juni 1997, Indonesia berada dalam kondisi fiskal yang nyaman," ungkap Menteri Keuangan Chatib Basri dalam sambutannya yang dibacakan oleh Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan Sony Loho di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (16/10/2014).
Memasuki Juli 1997, gelombang krisis Asia mulai menerpa. "Posisi fiskal Indonesia yang nyaman telah berakhir dan berbalik drastis," ujarnya.
Hal lain yang paling dirasakan saat krismon adalah anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dolar yang selama bertahun-tahun berada di posisi Rp 2.500, menguat tajam hingga mencapai Rp 17.000.
"Arus modal keluar meningkat pesat," sebutnya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun turun sampai 13,2%. Peringkat utang Indonesia turun drastis menjadi default, alias sangat berpotensi gagal bayar.
Ekonomi memang porak-poranda, dan Indonesia terus berbenah. Perlahan, ekonomi Indonesia mulai pulih dan berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah krismon, yaitu 6,5% pada 2011.
"Kita sudah membangun sebuah sistem yang dianggap sebagai sistem yang modern," ujar Dirjen Perbendaharaan Marwanto Harjowiryono.
(mkl/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!