Di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) misalnya. IHSG sempat melonjak hingga 24,3%. Lalu, bagaimana laju IHSG di era presiden terpilih Joko Widodo dengan melihat situasi politik yang tengah memanas saat ini?
"Ekonomi dan politik tidak bisa dipisahkan. Dulu, Pak Harto jatuh justru bukan karena politik tapi karena kondisi ekonomi Indonesia yang terpuruk, orang makan saja susah, maka itu dinilai gagal," ujar Lukas Setia Atmaja, Center for Finance and Investment Research Prasetya Mulya di acara Edukasi Wartawan Pasar Modal Bersama Schroder Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (15/10/2014).
Lukas merinci, saat SBY memimpin Indonesia di periode 2004-2009, IHSG melejit hingga 24,3%. Berlanjut, di tahun 2009-2014, IHSG pun masih mencatatkan angka positif naik sekitar 15,9%.
"Pas SBY harga komoditas lagi bagus-bagusnya, batu bara, timah, dan lain-lain," katanya.
Sementara di era Megawati di tahun 2001-2004, kenaikan IHSG mencapai 19,6%. Sedangkan saat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memimpin Indonesia, sepertinya IHSG belum berpihak padanya. IHSG mencatatkan angka minus 11,9%.
"Nah, ini pas Gus Dur saya tidak begitu memperhatikan kenapa minus," ujar dia.Next
(drk/ang)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!