Tapi ketika tragedi longsoran salju menewaskan 13 Sherpa dan tiga orang lainnya hilang pada 18 April lalu, hawa kesedihan sangat kental di Westchester dan Putnam. Rupanya di kedua tempat ini menetap banyak Sherpa perantau asal pegunungan Himalaya.
“Saya punya lebih dari 60 orang teman dan keluarga yang melakukan ekspedisi rutin dari sisi Nepal maupun Tibet dan bersyukur sampai saat ini belum ada yang terluka,” kata Phurba Sherpa, seorang Sherpa yang kini bekerja sebagai pengemudi traktor di Kota Carmel, Putnam, sejak 1989.
Tapi, “Ketika saya mendengar mereka terkubur oleh longsoran salju, itu sangat menyedihkan,” kata Phurba Sherpa, kepada New York Times, pada pekan lalu. “Tapi saya sejak dulu sudah tahu bahwa cepat atau lambat, hal seperti itu bisa terjadi.”
Sherpa yang lain, Geljen Nuru Sherpa, 43 tahun, punya cerita yang lain. Dia bilang lima pamannya tewas dalam kejadian longsoran salju pada 1972. Tapi, sama seperti Phurba, Geljen Nuru bilang itu adalah risiko.
“Itu seperti bergabung dengan tentara,” kata Geljen. “Bila Anda diterjunkan ke sebuah negara, ada risiko Anda tak bisa pulang lagi. Ketika melakukan petualangan, seperti berselancar di udara, ada peluang Anda akan mati.”
Sherpa adalah kelompok etnis yang didominasi pemeluk Buddha, yang berakar dari Tibet. Sher berarti 'timur' dan Pa berarti 'Orang'. Orang Sherpa adalah keturunan orang Tibet timur yang bermigrasi ke Nepal. Next
(DES/DES)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!