Dahlan membenarkan langkah perseroan. Meski Indonesia kaya gas, namun sumber gas yang ada dialokasikan untuk memenuhi kontrak-kontrak ekspor yang lama.
"Impor gas karena jatah gas dalam negeri kan sudah terikat dengan kontrak-kontrak lama. Misal sumber gas di dalam negeri kan. Bontang, Arun, dan Tangguh. Yang Arun sudah habis, kalau Bontang kan sudah terikat kontrak dengan Jepang, yang Tangguh kan sudah terikat kontrak dengan Fujian Tiongkok," kata Dahlan usai rapat kerja di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Rabu (7/2/2014).
Langkah Pertamina yang tetap mengimpor gas adalah karena perseroan memiliki pusat penampungan dan pengolahan gas yang sangat besar. Jika tidak ada pasokan gas, maka fasilitas tersebut tidak terpakai secara optimal.
"Sementara Pertamina punya receiving terminal yang besar sekali. Nah itu harus diisi, memang sejak semula mengadakan receiving terminal itu salah satu sumber gasnya dari impor," jelasnya.
Meski impor gas, Dahlan menyebut harga gas impor relatif lebih murah ketimbang harga BBM impor. "Tapi lebih murah dari impor BBM. Nah nanti PGN (Perusahaan Gas Negara) yang ada di lampung mencari juga yang impor karena gas impor murah," katanya.
Meski memiliki sumber gas sangat banyak namun Pertamina tidak serta-merta bisa memperoleh sumber gas baru.
"Sedang diusahakan dan nggak bisa langsung sekarang. Misalnya kalau kita cari sumur gas perlu waktu 3-4 tahun. Sementara kita perlu gas sekarang," tegasnya.
(feb/dnl)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!