Industri Tambang 'Mati Suri', Anak Usaha Pertamina Ini Pusing

Jakarta -Anak usaha PT Pertamina (Persero), yakni PT Pertamina Patra Niaga harus memutar otak agar tetap bisa bertahan dan meraup untung. Pasalnya, 80% pasarnya ada di sektor pertambangan, dan sektor ini banyak yang tutup dan berhenti operasi, karena harga komoditas lesu.

"Kondisi tambang sekarang sedang kusut ya, pasarnya menciut, harga batu baranya anjlok kan. Sekarang perusahaan batu bara bekerja pada titik yang tidak optimal. Artinya mereka produksi tapi tetap rugi, tapi bagaimana caranya ruginya tidak gede-gede amat," ungkap Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Ferdy Novianto ditemui di kantornya, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Senin (13/4/2015).


Ferdy mengatakan, Pertamina Patra Niaga selaku perusahaan pemasok bahan bakar, menggantungkan sebagian bisnisnya pada sektor pertambangan. Sebanyak 70% pasokan bahan bakar minyak (BBM) Pertamina Parta Niaga berasal dari impor, dan dijual kepada perusahaan tambang.


"Jadi 80% pasar kita itu dari tambang, mulai dari batu bara, nikel, dan bauksit. Apalagi sekarang kan nikel dan bauksit tidak boleh ekspor, jadi pada mati suri semua atau berhenti produksi," katanya.


Sekarang ini, perusahaan pemasok BBM seperti Patra Niaga sedang pusing, pasalnya banyak perusahaan tambang yang belum melunasi pembayaran tagihan bahan bakarnya.


"Seperti AKR, kami itu pusing juga, menagih perusahaan tambang suruh bayar, jual memang mudah menagihnya itu susah. Tahun lalu saja banyak piutang-piutang yang belum dibayar sampai sekarang," katanya.


Ia menambahkan, agar tetap terus meraup laba tahun ini, pihaknya mencoba menggarap potensi di sektor lain, seperti bunker, penjualan bahan bakar bagi kapal-kapal, perkebunan seperti kepala sawit, perhotelan, dan industri.Next


(rrd/dnl)

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com