Supaya Komuter Tak Berteman Ayam Berkokok

Jakarta - Ricky Sihombing masih bersabar untuk hidup sebagai seorang komuter sejati. Saat ayam baru berkokok, dia harus sudah berangkat dari rumahnya di bilangan Ciputat dengan bus kota menuju kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta. Itu dilakoninya setiap hari.

Tak heran ketika proyek monorel dan Mass Rapid Transit (MRT) digulirkan kembali, sontak harapan Ricky pun bungah. “Saya berharap MRT bisa selesai tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih cepat,” kata pria 35 tahun yang bekerja sebagai karyawan swasta itu kemarin.


Perjalanan berjam-jam menuju pusat kota Jakarta bagi para komuter adalah hidup yang harus diakrabi saban hari dengan sabar. Sarana transportasi publik yang membawa kaum komuter dari pinggiran Jakarta menuju ibukota memang belum sanggup menampung mereka semua.


Ini belum termasuk soal kenyamanan dan keamanan sarana transportasi tersebut. Tak heran kemudian banyak yang lebih memilih kendaraan pribadi meski semakin membikin macet lalu lintas.


Sejak lama wacana pembangunan MRT dan monorel didengungkan. Dono Boestami, Direktur Utama PT MRT Jakarta mengatakan wacana MRT sudah ada sejak 25 tahun lalu. "Lima kali ganti presiden belum terlaksana,” ujarnya kemarin.


Sedangkan monorel sejatinya sudah mulai dibangun pada 2003. Namun karena ada masalah dengan pihak kontraktor, proyek tersebut berhenti pada 2004 dengan menyisakan tiang-tiang pancang di sejumlah titik. Sejak 2004, tiang-tiang tersebut nyaris tidak berguna.


Setelah beberapa proses yang dilalui, kini dua moda transportasi itu mulai bangkit dari tidur. Bulan ini, pemerintah provinsi DKI Jakarta telah meletakkan batu pertama (groundbreaking) untuk pembangunan MRT dan monorel.Next


(DES/DES)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!