Ketua DKN Benny Kusbini mengatakan kartel terjadi karena perdagangan kedelai dikontrol sepenuhnya oleh pihak swasta.
"Perdagangan kedelai dilakukan sepenuhnya atau 100% dikuasai oleh pihak swasta. Mereka itu terdiri dari 6-8 perusahaan itu saja yang menguasai perdagangan kedelai," ungkap Benny kepada detikFinance, Senin (2/9/2013).
Menurutnya gejolak harga kedelai yang terjadi saat ini mirip seperti kejadian tahun lalu (2012). Pada saat itu harga kedelai melonjak tajam dan para perajin tahu dan tempe sulit mendapatkan kedelai dari tangan importir. Namun tahun ini, Benny menilai para importir cerdik mengambil keuntungan dari fluktuasi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Praktik kartel ini menjadi kesempatan yang baik dilakukan di saat rupiah mengalami pelemahan. Faktor rupiah melemah memang menjadi penyebab tetapi tidak signifikan. Importir tahu kebutuhan kedelai kita 80% itu dari impor jadi mereka menggoreng situasi ini sebagai situasi yang tepat," imbuhnya.
Untuk mencegah terjadinya kartel harga kedelai, ia menyarankan agar pemerintah perlu mengatur tata niaga impor produk kedelai. Impor kedelai ini seharusnya hanya dilakukan satu pintu oleh pemerintah atau lembaga lain yang ditunjuk.
"Jangan sampai ada praktik sistem jual beli kuota di institusi terkait. Kemudian 9 bahan pokok yang terkait hajat hidup orang banyak jelas dikuasai oleh negara bukan swasta. Importir itu pintar mereka awalnya bawang putih, setelah beres pindah ke cabe kemudian ke daging sapi dan sekarang kemali lagi ke kedelai. Begitu nanti seterusnya," cetusnya.
(wij/hen)