Direktur Konstruksi dan Energi Terbarukan PLN Nasri Sebayang mengatakan, tiga PLTU yang terlambat pembangunannya adalah:
- PLTU Nagan Raya (2 x 110 MW) di Meulaboh, Aceh
- Pangkalan Susu (2 x 200 MW) di Sumatera Utara
- PLTU Sumbar-Teluk Sirih (2 x 112 MW)
"Memang proyek-proyek ini sudah mengalami keterlambatan sejak 2007-2008, karena biasanya pekerjaan proyek ini adalah 40 bulan. Ada beberapa hal yang mengganggu, seperti masalah tanah dan pendanaan. Ini awalnya ada bantuan dari bank-bank China, ternyata bank-bank itu minta jaminan pemerintah. Tapi itu sudah lewat masanya," kata Nasri ditemui di kantor pusat PLN, Jakarta, Senin (2/9/2013).
Konstruksi sejumlah PLTU tersebut juga menurut Nasri memang mengalami keterlambatannya. Alasan lain selain faktor internal, China memang baru pertama kali ini membangun pembangki listrik di luar negeri.
"Jadi mereka (China) baru berkenalan dengan Indonesia. Di sana sini mengalami keterlambatan. Tapi tahun ini diusahakan semua tuntas," ujar Nasri.
Nasri mengatakan, dari pembangunan sejumlah pembangkit listrik di Sumatera, ada yang akan selesai dan mulai memasok listrik akhir tahun ini dengan kapasitas 200 megawatt (MW). "Di triwulan I-2013 juga ada yang mulai beroperasi seperti Pangkalan Susu. Lalu triwulan II-2013 juga akan ada tambahan 300 MW," papar Nasri.
Saat ini, ujar Nasri, wilayah Sumatera Tengah dan Utara memang seringkali mengalami byar pet atau pemadaman bergilir karena defisit listrik. "Kami kejar habis-habisan. Di Sumatera Barat listrik kurang karena Dana Maninjau dan Singkarak lagi kering, curah hujannya rendah. Ini mengganggu operasional PLTA," kata Nasri.
Selain PLTU, ada juga sejumlah PLTMG (pembangkit listrik tenaga mesin gas) yang akan dibangun di Sumatera untuk mengatasi krisis listrik yang terjadi saat ini. Namun untuk PLTMG ini akan banyak selesai di akhir 2014.
"Kami mohon maaf atas situasi yang terjadi. Tapi kami akan bekerja dan memberikan yang terbaik," kata Nasri.
(dnl/hen)