"Kalau mau ideal antara subsidi non subsidi bedanya Rp 1000. Iya kalo idealnya memang segitu. Jadi misalnya harga pertamax saat ini adalah Rp 10.000 per liter, maka harga premium harusnya pada Rp 9000 per liter," ungkap Menteri Keuangan Chatib Basri dalam seminar Economist Indonesia Summit 2014 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (15/1/2014).
Menurut Chatib, untuk mencapai harga ideal tersebut tidaklah mudah, pasalnya untuk mencapai harga Rp 6.500 per liter untuk premium dan RP 5.500 per liter untuk solar saat ini memerlukan berbagai pertimbangan.
"Saya bilang kita harus lihat realitasnya," sebutnya. Seperti diketahui saat ini harga premium Rp 6.500 per liter sementara harga pertamax (BBM non subsidi) Rp 11.800 per liter atau beda Rp 5.300 per liter.
Chatib mengaku terus menyiapkan regulasi yang tepat soal BBM subsidi. Namun untuk setiap kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Apalagi barang bernama BBM subsidi tersebut sangat sensitif.
"Saya tadi ditanya apakah reform-nya seperti apa. Saya bilang jangan di-rule out. Jangan dianggap tidak mungkin, semua kemungkinan ada karena pemerintah tetap persiapkan untuk itu," paparnya.
Chatib menambahkan, intinya BBM subsidi akan terus ada. Kebijakan yang dipersiapkan adalah kebijakan yang hanya mengatur secara mekanisme, baik dari segi anggaran maupun konsumsi dan bukan menghapuskan BBM subsidi.
"Persiapan selalu dibuat dan jangan hilangkan. Kemungkinan reformasi subsidi itu yang dilakukan," ujar Chatib.
(mkl/rrd)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!