Konsumsi Listrik Bengkak Gara-gara Lonjakan Properti

Jakarta -Konsumsi listrik di Indonesia semakin lama semakin tinggi. Salah satu penyebabnya adalah pertumuhan kelas masyarakat ekonomi menegah yang tinggi mendorong lonjakan properti.

Makin banyak rumah dan gedung baru, maka makin banyak pula peralatan elektronik baru, seperti televisi, lemari pendingin (kulkas), dan lain-lain. Dengan iklim Indonesia yang tropis, di musim panas ini juga makin banyak pengatur suhu ruangan (air conditioner/AC) digunakan masyarakat.


“Saat ini kan barang elektronik sudah seperti lifestyle. Apalagi kan sekarang pertumbuhan properti di Indonesia terutama di pulau jawa itu meningkat pesat. Nah, AC, kulkas, barang elektronik itu banyak ditarik ke situ. Propertinya pesat, penjualan elektronik juga ikut meningkat,” ujar Ketua Electronic Marketer Club Rudyanto kepada detikFinance, Senin (24/4/2014).


Rudyanto mengungkapkan bahwa penjualan AC menduduki peringkat teratas penjualan barang elektronik di pulau paling padat di Indonesia ini. Pada akhirnya, memberi dampak langsung pada beban listrik.


“Untuk TV dan kulkas itu cenderung landai pertumbuhannya. Tapi kalau AC itu cukup signifikan, karena AC ini kan paling banyak dibutuhkan oleh properti. Paling banyak itu penjualan terjadi di Pulau Jawa terutama Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi). Di daerah itu kan pembangunan property sedang tinggi jadi penetrasi elektroniknya juga lebih besar,” paparnya.


Sebelumnya, diumumkan beban puncak listrik di sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) mencapai rekor tertinggi, yaitu 22.974 Megawatt (MW) pada Kamis (24/4/2014) jam 18.00 WIB.


Selain akibat cuaca terik beberapa hari terakhir ini, peningkatan konsumsi listrik juga didorong naiknya frekuensi penggunaan alat-alat elektronik lain.


"Pertumbuhan yang cukup tinggi ini adalah pertumbuhan alami. Ada misalnya orang pasang baru perumahan-perumahan pasang baru dan lain-lain. Jadi ini alami. Pertumbuhan penggunaan listrik itu 8% per tahun, itu secara nasional. Sedangkan untuk Jawa-bali 3,5%," kata Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto kepada detikFinance.


(ang/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!