Amerika No! Burger Amerika Yes!

Jakarta -Restoran itu mulai penuh. Musik rock klasik bervolume rendah mengalun di antero ruangan. Di salah satu sudut tergantung foto Paul Newman, James Dean, dan mobil-mobil lawas. Seperti diner klasik Amerika. Tapi itu sesungguhnya di Teheran, Iran.

Garage Grill, nama restoran itu, berdiri di sebuah pusat perbelanjaan kelas atas di Teheran. Pelanggan-pelanggannya adalah orang-orang muda Iran, dengan dompet rancangan desainer khusus dan mobil mewah Eropa.


Ini wajah lain Iran, negerinya Ayatollah Khomeini, yang antipati pada segala macam bentuk budaya kebarat-baratan, terutama Amerika. Mereka menyebutnya “Westoxification”. Tapi restoran burger, menu khas barat itu, ternyata tak ikut ditolak.


Pengamat kuliner bilang, tren itu sebetulnya tak perlu dipandang aneh. Meski menimbulkan kontroversi dan perdebatan, masyarakat Iran sebetulnya sudah lama memiliki tradisi menikmati daging bakar.


“Burger itu sangat sederhana, sangat mudah disajikan,” kata Payam Kashani-Nejad, pendiri Gumboo Guide, sebuah website yang khusus membicarakan restoran-restoran di Teheran. “Dan itu adalah pasar yang besar.”


Bahkan di Korea Utara, negeri komunis yang menutup diri dari dunia luar, burger sudah merasuk. Sejak 2012 lalu makanan barat seperti burger dan roti lapis sudah menjadi makanan favorit masyarakat negeri itu, meski dengan sajian yang disesuaikan dengan tradisi lokal.


Mengapa publik Iran dan Korea Utara tak menolak makanan tradisi Amerika itu? Simak Laporan Khusus detikFinance edisi hari ini.


(DES/DES)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!