Pengusaha jasa pengiriman logistik yang diwakili Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Iskandar Zulkarnain menilai Indonesia membutuhkan pembangunan infrastruktur. Namun dilihat dari sisi nilai, pembangunan JSS sangat mahal dan memerlukan waktu pembangunan yang lama.
"JSS sudah Rp 100 triliun. Bangun jembatan itu high cost. Sedangkan kita itu negara kepulauan," kata Iskandar pada acara Munas ALFI di Hotel Sahid Jakarta, Senin (17/3/2014).
Iskandar menuturkan, jika melihat negara-negara kepulauan seperti Filipina dan Jepang. Moda transportasi pelabuhan dan kapal menjadi tulang punggung untuk angkutan logisitik antar pulau. Biaya pengiriman logistik dengan moda laut pun relatif murah.
"Kita kaji itu sistem roro ship (kapal laut) paling efisien. Seperti di Prancis Inggris ada selat. Itu sangat luar biasa jasa layanan kapal roro" jelasnya.
Jika dilakukan perbandingan, pembangunan pelabuhan dan pembelian kapal baru lebih efektif di dalam menyambungkan transportasi laut ketimbang rencana pembangunan JSS yang membutuhkan investasi hingga di atas Rp 100 triliun. Bahkan hitung-hitungan biaya juga relatif lebih rendah.
"Intinya nilai dibelikan dan pelabuhan. Ratusan kapal bisa diserah. Banyak kapal untuk melayani Nusantara. Kalau dana Rp 100 triliun nggak kecil," jelasnya.
Sementara itu Sekjen ALFI Yukky Nugrahawan menjelaskan, pembangunan JSS memang diperlukan sebagai pendukung infrastruktur di tanah air. Namun Indonesia membutuhkan pembangunan infrastruktur yang cepat, sedangkan JSS membutuhkan waktu pembangunan hingga 10 tahun lebih.
"JSS atau pelabuhan dibangun intinya semua rencana ada di sana. Implementasi jawab kapan? Itu investasi jangka panjang. Yang harus dikejar itu 3-5 tahun ke depan. Bagaimana kita dapat segera mungkin implementasi dari rencana kerja ALFI ke depan. Ini sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi," katanya.
(feb/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!