Deputi I Bidang Koordinasi Fiskal dan Moneter Kementerian Koordinator Perekonomian Bobby Hamzar Rafinus menilai, pelanggan yang mengonsumsi listrik 1.300 Va masuk dalam kategori kelas menengah alias cukup mampu.
"Kecuali yang 900 Va ke bawah (dapat subsidi listrik), sebab subsidi kita harus makin tepat sasaran. Jadi kalau pengamatan kita, penikmat subsidi sudah nggak perlu lagi, ya kita hilangkan secara bertahap demi belanja yang lebih produktif," tegasnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (4/12/2014).
Menurutnya, dengan menghilangkan subsidi listrik untuk pelanggan rumah tangga 1.300 Va, akan banyak memberi banyak ruang fiskal. Penghematan ini bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang lebih produktif.
"Itu bisa buat bangun infrastruktur lebih banyak lagi. Subsidi energi makin lama makin terbatas, lalu pindahkan ke infrastruktur karena kita butuh dana sangat besar," katanya.
Bobby menyebutkan, dalam hitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), kebutuhan pembangunan infrastruktur dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 5 tahun ke depan mencapai Rp 2.000 triliun. Itu artinya, pemerintah butuh sekitar Rp 400 triliun untuk membangun infrastruktur.
"Sayangnya, saat ini alokasi belanja infrastruktur baru Rp 170 triliun," katanya.Next
(drk/hds)