Cerita Nelayan yang Beda Nasib Untuk Dapat Solar Subsidi

Jakarta -Para nelayan di kawasan nelayan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara mengaku tidak kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) wilayah Cilincing. Namun cerita berbeda yang dialami oleh para nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara.

"Di Muara Angke antrean cukup padat, di sini aman-aman saja," kata salah satu nelayan Al-Qomar kepada detikFinance di sentra nelayan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (1/09/2014).


Al-Qomar menceritakan kondisi nelayan Muara Angke kesulitan mendapatkan pasokan solar subsidi di SPBN Muara Angke yang jumlahnya cukup terbatas. Bahkan ada beberapa nelayan yang tidak melaut karena tidak kebagian jatah solar subsidi.


"Kalau di tengah laut saya suka bertemu nelayan Muara Angke dan mereka bilang sulit mendapatkan solar di sana," katanya.


Sementara itu Kepala Solar Pack Dealer Nelayan (SPDN) 39.141.17, Cilincing, Jakarta Utara Johan mengungkapkan kondisi nelayan Muara Angke dengan Cilincing jauh berbeda. Fasilitas kapal yang digunakan nelayan Muara Angke jauh lebih besar dibandingkan nelayan Cilincing.


Johan menjelaskan semakin besar kapal, maka daya konsumsi bahan bakar akan semakin besar. Padahal SPDN Muara Angke menyediakan pasokan solar dalam jumlah yang cukup besar.


"Kalau di sini mayoritas kapal yang digunakan ukuran di bawah 6 GT (Gross Ton), di Muara Angke kebanyakan kapal 30 GT. Sehari per kapal konsumsi 30 ton solar subsidi. Setiap minggu Pertamina pasok solar ke SPDN di sana 3.000 KL, tentu terus akan habis karena kapal besar itu boros bahan bakar," jelasnya.


(wij/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!