"Harga BBM subsidi harus naik tahun ini juga. Waktu yang pas ya September ini," kata ekonom Universitas Gadjah Mada A Tony Prasetiantono ditemui Posko Jokowi-JK, Jakarta, Senin (1/9/2014).
Tony mengungkapkan, ada baiknya Presiden SBY bersama presiden terpilih Joko Widodo bersama-sama menaikkan harga BBM. Ini dilakukan agar beban Presiden SBY di akhir masa jabatannya tidak terlalu berat.
"September ini waktu yang tepat. Secara bersama-sama Presiden SBY didampingi Jokowi mengumumkan kenaikkan harga BBM subsidi, itu lebih baik," ucapnya.
Tony menilai, jika pemerintah tahun ini tidak menaikkan harga BBM subsidi, dampak bagi ekonomi Indonesia akan semakin berat. Beban subsidi akan semakin berat dan dampaknya akan melebar ke sektor lain.
"Kalau tahun ini tidak naik, maka subsidi jebol. Kalau jebol artinya harus nambah anggaran. Kalau subsidinya nambah jadinya Rp 350 triliun itu akan berbahaya, karena investor akan berpandangan negatif terhadap ekonomi Indonesia sehingga pemerintah ke depan akan makin berat lagi," paparnya.
Tony juga mengkritik pernyataan Ketua DPP Partai Demokrat Ikhsan Modjo yang menyatakan pemerintah masih punya dana cadangan Rp 98 triliun dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa). Menurut dia, Silpa tidak bisa digunakan begitu saja.
"Kalau orang mengerti APBN dan ekonomi, Silpa itu dari sudah ada posnya masing-masing. Misalnya untuk bayar gaji awal bulan dan sebagainya," tegasnya.
(rrd/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!