Meski dipangkas, pasokan solar subsidi berjalan normal dan tidak ditemui antrean padat dibandingkan daerah sentra nelayan lainnya seperti di Aceh dan Pantura.
"Di sini aman-aman saja, tidak ada antrean. Pasokan solar memang berkurang 20% dari Pertamina pusat," ungkap Kepala SPDN 39.141.17, Cilincing, Jakarta Utara Johan kepada detikFinance di lokasi, Senin (1/09/2014).
Johan memaparkan awalnya setiap minggu Pertamina rutin memasok solar subsidi ke SPDN-nya sebanyak 288 Kilo Liter (KL). Sejak dikeluarkan aturan tertulis dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) pasokan solar yang datang hanya 224 KL.
"Ada selisih pengurangan 58-64 KL atau berkurang 20%," imbuhnya.
Walaupun pasokan dipotong, Johan mengaku tidak ada antrean yang signifikan dari para perahu nelayan yang akan mengisi bahan bakar solar. Hal ini karena kapal yang mengisi solar di SPDN-nya tergolong kapal jenis kecil.
"Setiap hari kita tetap layani pembelian solar 10-15 kapal. Tidak ada antrean karena ukuran kapal paling besar di tempat ini hanya 6 GT (Gross Ton) dengan konsumsi BBM per hari di bawah 200 liter," paparnya.
Ia juga mengatakan harga solar subsidi yang dijual di SPDN-nya tetap Rp 5.500/liter. "Harganya tetap sesuai harga yang ditetapkan Pertamina," jelasnya.
Seperti diketahui mulai 4 Agustus 2014, alokasi Solar bersubsidi untuk Lembaga Penyalur Nelayan (SPBB/SPBN/SPDN/APMS) juga akan dipotong sebesar 20% dan penyalurannya mengutamakan kapal nelayan di bawah 30GT.
(wij/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!