Tanpa Kilang Minyak, Neraca Perdagangan RI Dijajah Impor BBM

Jakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2014 mengalami surplus US$ 123,7 juta. Namun, Bambang Brodjonegoro, Wakil Menteri Keuangan, memperingatkan bahwa Indonesia masih dihantui oleh tingginya impor hasil minyak, terutama bahan bakar minyak (BBM).

"Impor sebenarnya yang paling berat impor BBM. Kalau nggak ada perbaikan apa-apa dari sisi produksi, maka akan tetap tinggi dan demand akan tinggi terus," kata Bambang di Gedung DPR/MPR/DPD, Senayan, Jakarta, Senin (1/9/2014).


Menurut Bambang, salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor adalah membangun kilang minyak di dalam negeri. Dia menyebutkan bahwa Indonesia tengah dalam proses untuk membangun kilang.


"Targetnya bulan ini kita bisa semacam soft launching untuk menunjukkan lokasinya kepada investor. Momen itu yang kita tunggu nanti," sebutnya.


Sementara dari sisi ekspor, Bambang menilai ekspor produk manufaktur semakin membaik. Namun belum mampu mendongrak kinerja ekspor akibat pelemahan harga komoditas global.


"Manufaktur kita sudah membaik. Cuma pengaruh di dalam total ekspor masih didominasi oleh komoditi karena komoditi harganya lagi jatuh jadi kita butuh waktu sampai ekspor manufaktur bisa kasih yang lebih lagi ke total ekspor," sebutnya.


BPS mencatat pada Juli 2014 nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 14,18 miliar. Turun 6,03% (year-on-year/yoy) dan 7,99% (month-to-month/mtm).


Sedangkan impor pada Juli tercatat US$ 14,05 miliar. Turun 19,31% secara yoy dan 10,47% secara mtm.


(feb/hds)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!