Demikian disampaikan Menteri Keuangan Chatib Basri di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, Rabu (1/10/2014).
"Dengan normalisasi kebijakan AS, di mana The Fed akan menaikkan lebih awal tingkat suku bunganya pada semester I-2014, maka kita bisa duga likuiditas akan menjadi lebih ketat," katanya.
Chatib menjelaskan, dengan pengetatan likuiditas akan memberikan imbas terhadap pasar keuangan Indonesia. Salah satunya adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Semakin banyak dana keluar, posisi dolar AS akan semakin kuat dan sebaliknya bagi rupiah.
"Dalam 3 bulan terakhir saya selalu membicarakan ini. Indonesia harus bersiap dengan periode baru di mana The Fed akan menaikkan suku bunga mungkin lebih cepat. Ini akan menyebabkan turbulance di pasar keuangan dan tekanan terhadap rupiah," paparnya.
Chatib mengaku tidak begitu terkejut dengan fluktuasi nilai tukar rupiah. Gejolak ini sudah diprediksi dari awal.
Berdasarkan data Reuters, saat ini rupiah diperdagangkan di posisi Rp 12.185 per dolar AS. Menguat dibandingkan kemarin yang sempat menembus level Rp 12.200 per dolar AS.Next
(drk/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!