Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop, menyatakan bahwa Indonesia harus melakukan pengurangan belanja subsidi BBM dan mengalihkannya ke pembangunan infrastruktur. "Subsidi BBM, yang berjumlah 2,6% dari PDB, lebih dimanfaatkan pemilik kendaraan. Pengalihan akan memungkinkan pemerintah untuk meningkatkan investasi di bidang infrastruktur dan bidang mendesak lainnya, seperti kesehatan, yang saat ini hanya 0,9% dari PDB," paparnya di acara Indonesia: Avoiding the Trap Development Policy Review 2014, di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (23/6/2014).
Pembangunan infrastruktur, lanjut Diop, belum memadai dan kurang mendapatkan dukungan dana. "Infrastruktur Indonesia tidak memadai sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi. Jumlah investasi di bidang infrastruktur selama dekade terakhir oleh pemerintah pusat, pemda, BUMN, dan swasra kurang dari 4% PDB," ungkapnya.
Menurut Diop, jumlah tersebut sangat kurang, baru separuh dari yang dibutuhkan Indonesia. Akibat infrastruktur yang kurang memadai, Indonesia kehilangan momentum untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
"Bank Dunia memperkirakan Indonesia telah kehilangan setidaknya 1% pertumbuhan ekonomi setiap tahun selama dekade terakhir karena investasi yang rendah ini. Terlalu banyak alokasi belanja pemerintah untuk subsidi BBM," tegasnya.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mendekati 9%, selain realokasi anggaran subsidi BBM, Diop meminta pemerintah dapat mempermudah perizinan investasi di berbagai sektor. "Implementasi peraturan yang tidak konsisten jelas membingungkan investor. Harusnya investor mendapatkan fasilitas dari pemerintah yakni kemudahan dalam investasi dan perizinan," tuturnya.
Seperti diketahui, anggaran subsidi BBM tahun ini sudah mencapai Rp Rp 246,5 triliun, naik Rp 35,8 triliun dari perkiraan sebelumnya. Subsidi lain yang jumlahnya lebih besar listrik, yang mencapai Rp 103,8 triliun.
Besarnya subsidi energi, yaitu BBM dan listrik, membuat pemerintah terpaksa melakukan penghematan belanja Rp 43 triliun. Pemangkasan belanja menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin melambat.
(rrd/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!