Kebanyakan pakar itu sepakat, Internet akan merambah ke segala sendi kehidupan manusia. “Intelijensia buatan (artificial inteligence/AI) akan makin umum, internet 'segala sesuatu' akan makin luas, perangkat yang bisa dipakai badan juga lebih banyak,” kata Lee Rainie, Direktur Internet Project di Pew Research Center.
Sensor yang makin pintar. Data center dengan data yang semakin masif. Runtuhnya sistem keuangan berbasis negara menjadi mata uang digital, seperti Bitcoin. Lahirnya inovasi-inovasi yang mengintegrasikan Internet ke dalam segala aspek kehidupan manusia.
Rumah, kulkas, televisi, telepon, kamera, laptop, dan sebagainya, akan terhubung melalui Internet. Cisco menyebutnya “Internet Segala Sesuatu”. Sesungguhnya terminologi itu digagas oleh Kevin Ashton, seorang pakar teknologi dari Inggris, pada 1999.
“Internet akan beralih dari tempat kita mencari-cari video belaka ke kemampuan latar yang menopang bagaimana kita hidup sehari-hari,” kata Joe Touch, Direktur Information Sciences Institute Postel Center di Universitas Southern California, kepada Washington Post.
Menurut perhitungan Cisco, perusahaan teknologi informasi itu, sebanyak 99% obyek fisik yang ada di dunia saat ini belum terhubung satu sama lain. Baru 10 miliar dari 1,5 triliun perangkat yang ada di dunia, yang sudah terhubung satu sama lain via jaringan. Memang, jauh meningkat dari hanya 200 juta perangkat pada 2000.
Tapi masifnya penggunaan ponsel cerdas dan tablet dalam satu dekade terakhir membuat situasi berubah. Sepuluh tahun ke depan bahkan bakal lebih dramatis. Menurut Cisco, perangkat yang terhubung satu sama lain bakal mencapai 50 miliar. Next
(hds/ang)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!