"Tadi sebuah laporan dari Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia sudah masuk negara berpendapatan menengah. Dalam negara berpendapatan menengah ada bahayanya, yaitu terjebak dalam middle income trap. Itu bahaya dan itu tidak kita inginkan," kata Bayu ditemui usai menghadiri diskusi Indonesia: Avoiding the Trap Development Policy Review 2014, yang diadakan Bank Dunia di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (23/6/2014).
Agar Indonesia tidak terjebak dalam middle income trap, lanjut Bayu, ekonomi harus terus meningkat. "Kita nggak mau stagnan dengan pendapatan per kapita hanya US$ 4.000-5.000. Kita ingin sampai US$ 20.000 per kapita," tegasnya.
Bayu menambahkan, untuk mencapai hal tersebut, pemerintah dan masyarakat perlu memperbaiki masalah di sektor pendidikan, kesehatan, fiskal, dan sebagainya. "Kita tidak hanya sekedar menghindari perangkap, tapi kita ingin Indonesia lebih sejahtera. Kita ingin meningkatkan investasi, meningkatkan SDM kita, dan lainnya," sebutnya.
Ndiame Diop, Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, menyebutkan salah satu negara yang terkena middle income trap adalah Brasil. Selama sekitar 2 dekade, perekonomian di negara penyelenggara Piala Dunia 2014 ini stagnan.
"Brasil tumbuh cepat pada 1960-1970 an, tapi kemudian menderita pertumbuhan yang sangat lambat selama 2 dekade setelah 1981 ketika mencapai pendapatan per kapita US$ 3.939. Angka yang hampir sama dengan Indonesia saat ini," jelas Diop.
Bank Dunia menilai, jika Indonesia ingin lepas dari perangkap tersebut dan ingin menjadi negara maju pada 2030, pertumbuhan ekonomi harus di atas atau mendekati 9%. "Risiko perangkap ini sungguh nyata dan para teknokrat di Indonesia layak merasa khawatir," kata Diop.
(rrd/hds)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!