Di Depan Karyawan, Bos Garuda Curhat Bisnis Penerbangan Tahun Ini Memble

Jakarta -Bisnis penerbangan tahun ini dinilai tengah mengalami perlambatan. Bahkan, beberapa maskapai penerbangan pun merugi akibat perlambatan ini. Fluktuasi nilai tukar rupiah, tingginya harga avtur, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi beberapa alasan lesunya bisnis penerbangan.

Demikian disampaikan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) Emirsyah Satar saat acara Penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Garuda Indonesia Periode 2014-2016 di Cengkareng, Jakarta, Selasa (2/9/2014).


"Sekarang dalam perlambatan growth, kita manajemen berusaha agar bertahan dan dihormati baik domestik dan global. Ini sejalan dengan target pencapaian dan tujuan bersama," ujarnya.


Emir menjelaskan, saat ini bisnis penerbangan baik global maupun domestik tengah mengalami berbagai tekanan disebabkan beberapa faktor seperti depresiasi nilai tukar rupiah, tingginya harga bahan bakar (avtur), dan perlambatan ekonomi.


"Berbagai perusahaan penerbangan mengalami perlambatan dan bahkan beberapa maskapai mengalami kerugian, sebagaimana perusahaan penerbangan, ini akibat depresiasi nilai tukar, harga bahan bakar dan perlambatan ekonomi," tegas dia.


Faktor-faktor tersebut membuat kinerja Garuda Indonesia di semester I-2014 juga tergerus.


"Hal tersebut berdampak pada kinerja operasional Garuda di semester pertama 2014," katanya.


Untuk itu, Emir menambahkan, pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk kembali menyehatkan kinerja keuangan perusahaan.


"Manajemen melakukan langkah-langkah agar di semester II mendapat kinerja lebih bagus," pungkasnya.


(drk/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!